Foto: Dokumentasi pribadi |
Judul tulisan di atas adalah prinsip perjuangan yang selalu
didengungkan oleh setiap warga NWDI di setiap forum. Prinsip ini dicetuskan
oleh pendiri NWDI yakni Maulansyaikh TGKH.M. Zainuddin Abdul Majid. Beliau mencetuskan
ini bukanlah ujuk-ujuk, tetapi sudah pasti merupakan hasil refleksi mendalam
terhadap dinamika yang terjadi di internal organisasi. Namun demikian, saya
tidak bermaksud mengulas secara ontologis ihwal prinsip tersebut. Batasan pengetahuan saya menjadi
“rem” sendiri bagi saya untuk nekat mencoba menguraikannya.
Dalam tulisan ini, saya hanya ingin menuangkan unek-unek
saya sebagai hadiah bagi diri saya sendiri yang sedang berevolusi dari umur 29
ke 30. Fikiran, perasaan, perkataan, dan tindakan saya yang bermuara pada
renungan pribadi di hari pertama perpindahan angka usia ini sepertinya tidak
jauh dari prinsip yang saya buat menjadi judul di atas. Mengalami masa
peralihan ke kepala tiga bagi saya suatu kenikmatan yang harus tanpa putus untuk
terus disyukuri. Namun disaat yang sama fase tersebut menjadi warning bagi saya
bahwa saya tidak muda lagi, dan pilihan untuk mendewasa semakin sedikit.
Di usia ke 30, pilihan mendewasa itu sepertinya
terdefinisakan menjadi semakin berani mengambil resiko, mampu berfikir dan
membuat keputusan dengan tepat, tidak mudah menyia-nyiakan waktu, fokus terhadap
tujuan, mampu survive dan bangkit dalam keadaan sulit, percaya terhadap
kemampuan diri menggapai cita-cita, nothing to lose sembari memiliki harapan
yang tanpa putus, dan konsisten dalam berkarya. Semua definisi yang saya
sebutkan tadi bagi saya adalah mesin penggerak yang berpotensi sebagai daya dorong saya menjadi pribadi yang lebih baik.
Definisi usia 30 yang saya uraikan tadi adalah semua hal yang
saya lalui sejak Tuhan pertama kali menitipkan kesadaran akan eksistensi saya
berada di dunia ini. Bagi saya, definisi-definisi tersebut jika diperas lebih
kecil lagi maka akan menjadi judul tulisan ini, yang merupakan prinsip yang
dititipkan Guru besar saya kepada semua jamaahnya, salah satunya saya.
Menjelang peralihan usia saya beberapa hari lalu, saya
semakin merasa bahwa perjalanan kehidupan saya semakin terakumulasi dalam
prinsip yang empat tersebut. Kadang saya meragukan diri saya, apakah saya bisa
menjalani kehidupan ini dengan tanggung jawab yang semakin menggunung. Saat saya
kepala tiga sekarang ini, saya begitu bersyukur bahwa Allah menitipkan saya
calon anak kembar yang sebelumnya sedikitpun tidak pernah terbayangkan dalam
benak saya. Betapa tidak? Saya tidak mempunyai gen kembar. “kan kun fayakun
pak”, kata dokter kandungan saat saya katakan saya dan istri tidak punya gen kembar. Sebuah ungkapan singkat dari seorang empirisis religius yang bernilai sangat spritual bagi seorang penganut Islam seperti saya.
Tanggung jawab yang saya miliki tersebut terkadang
menghadapi salah satu kerentanan iman saya untuk meyakini, “وَمَا مِن
دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا
وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ”, bahwa semua rezeki makhluk
sudah ditanggung oleh Allah. Tidak mudah menginternalisasi makna ayat ini
secara mendalam dalam diri kita disaat kita berada pada kondisi ekonomi yang
sulit. Namun kita tidak punya pilihan lain selain meyakininya. Karena dengan
keyakinan itulah harapan akan selalu hidup. Bahkan ilmuan ateis seperti Stephen
Hawking saja meyakini bahwa kehidupan manusia akan terus berjalan hanya jika masih tersisa harapan.
Namun seringkali harapan tidak berada pada titik temu dengan kenyataan. Apa yang kita rencanakan dalam benak kita untuk kita dapatkan demi keberlangsungan hidup, ternyata setelah dijalani bahkan dengan semaksimal kemampuan kita, bisa jadi di lapangan menghasilkan kenyataan yang berbeda. Saat kita mencoba satu peluang untuk maju, tidak pernah semudah membalikkan kedua telapak tangan. Di situlah jatuh bangun kehidupan akan kita rasakan. Kita hanya akan tetap bisa bangkit jika mampu menerimanya apapun yang terjadi dengan ikhlas dan sabar. Sebab bahkan kegagalan hanyalah api pendorong untuk kita bangkit dan melejit ke atas.
“I am grateful for all my victories, but I am
especially grateful for my losses, because they only made me work harder”
Petinju terhebat seperti Muhammad Ali bahkan
mengungkapkan dia lebih mensyukuri kegagalan daripada keberhasilan. Sebab
kegagalan bisa menjadi alarm untuk kita lebih meningkatkan ikhtiar kita dari
sebelumnya.
Dalam diri saya pribadi, kegagalan ini seperti default
perjalanan saya sebelum berhasil meraih apa yang saya cita-citakan. Salah satu
contoh dari sekian nikmat keberhasilan yang diberikan kepada saya adalah
keberhasilan meraih beasiswa kuliah di luar negeri. Di antara sahabat-sahabat
saya, hanya saya yang tidak lulus bahkan hingga 2x tes salah satu beasiswa.
Namun saat saya menolak menyerah, saat itulah Allah menjawab harapan saya itu
dengan beasiswa lain dengan tujuan luar negeri lebih dulu dari sahabat-sahabat
tersebut.
Saya menyangka bahwa perjalanan dramatis itu adalah
yang terakhir, ternyata banyak lagi setelah itu. Yang paling terkini menjelang
peralihan usia saya ini, saya lagi-lagi mendapatkan kegagalan untuk melamar
surat dukungan ke luar negeri. Namun karena “awak bisa karena biasa” yang melekat pada diri saya, kegagalan ini menjadi tidak seperih saat pertama kali menderita
kegagalan. Lebih-lebih kegagalan ini hanya disebabkan oleh misunderstanding,
bukan karena kelalaian saya, sehingga saya merasa lebih nothing to lose saat
menghadapinya. Di sisi lain, saya meyakini akan ada kejutan yang lebih besar tidak lama lagi yang disiapkan Allah untuk saya jika sy tetap ikhlas menerima atas semua keputusan sementaranya ini.
Tuhan memang maha asyik, kita diuji sabar bukan dengan meniupkan
rasa sabar, namun justru dengan mengirimkan ujian agar kita bisa belajar
bersabar. Dia membuat kita berhasil bukan dengan menyulap kita menjadi
berhasil, namun dengan menganugerahi kita kegagalan agar kita bisa belajar
memberikan usaha yang lebih hingga berhasil. Roda kehidupan selalu diputar
seperti ini untuk menunjukkan bahwa Allah yang menciptakan alam tidak akan menghianati
hukum alam bekerja. Bahwa segala sesuatu butuh proses untuk menjadi sempurna.
Kesabaran kita menjalani proses itulah yang kemudian disebut
dengan istilah konsisten atau dalam bahasa Arab disebut dengan istiqamah.
Istiqamah adalah prinsip akhir dari keempat prinsip di atas. Bahwa sebuah
perjuangan tidak mungkin berakhir dengan kesuksesan jika kita tidak mampu
memupuk harapan kita dan menerima setiap dinamika kehidupan secara terus
menerus. Proses berkelanjutan inilah yang termanifestasikan ke dalam satu kata
“istiqamah”. Perjuangan hanya akan gagal saat kita jatuh lalu tidak bangkit. Namun kemenangan hanya bisa diraih jika saat jatuh, kita langsung
bangkit. Sekali lagi saya mengutip kata Mutiara Muhammad Ali yang mengambil
hikmah kehidupan dari ring tinju,
“Kamu bisa saja terjatuh, namun kamu akan kalah saat kamu tidak
segera bangkit”
Lombok Timur, 08 April 2023